Kalau Bapak dan Ibu pernah nulis jurnal atau lagi proses submit ke jurnal internasional, pasti pernah ada momen seperti ini:
“Isi sudah bagus… tapi kok masih kena similarity tinggi ya?”
Atau yang lebih bikin panik:
“Padahal saya nggak copy paste, tapi tetap dianggap plagiasi?”
Nah, di sinilah pentingnya memahami bahwa plagiasi itu bukan cuma soal niat, tapi soal bagaimana tulisan kita terbaca oleh sistem dan reviewer.
Menurut riset dari IAI Muhammadiyah Bima, banyak mahasiswa dan peneliti pemula melakukan plagiasi bukan karena sengaja, tapi karena tidak memahami teknik penulisan akademik yang benar, terutama dalam hal parafrase dan sitasi.
Dan menariknya, menurut Ruslan dkk (2020), sekitar 40% kasus plagiasi akademik terjadi secara tidak disengaja (Ruslan et al, 2020).
Artinya?
👉 Ini bukan masalah individu
👉 Ini masalah sistem dan kebiasaan
Makanya di artikel ini kita bahas sampai tuntas—bukan cuma teori, tapi juga praktik nyata yang dipakai penulis jurnal internasional.
Apa Itu Plagiasi Tidak Sengaja dan Kenapa Sering Terjadi?
Plagiasi tidak sengaja sebenarnya terjadi saat kita menggunakan ide, data, atau kalimat dari orang lain tanpa memberikan kredit yang sesuai, meskipun kita tidak berniat menyalin.
Masalahnya, dalam dunia akademik, yang dinilai adalah hasil tulisan, bukan niatnya.
Jadi walaupun Bapak dan Ibu merasa sudah menulis ulang, kalau struktur kalimatnya masih mirip atau tidak ada sitasi, sistem tetap akan menganggap itu plagiasi.
Menurut Bretag (2016), kasus plagiasi tidak disengaja justru mendominasi dalam dunia akademik modern, terutama pada penulis pemula yang belum terbiasa dengan standar publikasi internasional (Bretag, 2016).
Kalau dipikir-pikir, ini masuk akal. Saat kita membaca banyak referensi, otak kita “menyerap” gaya bahasa dan struktur kalimat tanpa sadar. Ketika menulis, kita cenderung mengulang pola tersebut. Nah, di sinilah plagiasi sering terjadi.
Kenapa Parafrase Saja Tidak Cukup untuk Menghindari Plagiasi?
Banyak orang mengira bahwa selama sudah parafrase, maka tulisan pasti aman. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Parafrase yang asal—misalnya hanya mengganti beberapa kata dengan sinonim—justru sering disebut sebagai plagiasi terselubung atau mosaic plagiarism.
Menurut Roig (2015), parafrase yang baik harus mengubah struktur kalimat, bukan hanya mengganti kosakata (Roig, 2015). Ini berarti kita perlu benar-benar memahami isi teks sebelum menuliskannya kembali.
Bayangkan seperti ini:
Kalau kita hanya mengganti kata, itu seperti mengganti “baju” kalimat. Tapi kalau kita mengubah struktur, itu seperti membuat “orang baru” dengan ide yang sama.
Itulah kenapa teknik parafrase yang benar selalu dimulai dari pemahaman, bukan dari editing.
Bagaimana Cara Parafrase yang Aman dan Natural?
Kalau ingin aman dari plagiasi, pendekatan terbaik adalah menulis ulang ide dengan cara kita sendiri—seolah-olah kita menjelaskan ulang ke orang lain.
Caranya cukup sederhana, tapi sering diabaikan.
Saat membaca referensi, jangan langsung menulis. Luangkan waktu untuk benar-benar memahami isi. Setelah itu, coba tutup sumbernya, lalu tulis ulang berdasarkan pemahaman tadi.
Kenapa harus ditutup?
Karena kalau sumbernya masih terbuka, kita cenderung “meniru” tanpa sadar. Ini yang sering bikin kalimat kita tetap mirip dengan aslinya.
Penelitian dari Fakultas Teknik Unpas juga menekankan bahwa parafrase efektif hanya bisa dilakukan jika penulis memahami konteks secara menyeluruh, bukan sekadar permukaan.
Hasilnya memang sedikit lebih lama, tapi kualitas tulisan jauh lebih natural dan aman dari plagiasi.
Apakah Setelah Parafrase Masih Harus Pakai Sitasi?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawabannya: iya, tetap harus.
Banyak yang berpikir kalau sudah ditulis ulang, berarti ide tersebut sudah “jadi milik sendiri”. Padahal dalam dunia akademik, ide tetap milik penulis asli.
American Psychological Association menjelaskan bahwa setiap ide yang berasal dari sumber lain wajib disitasi, bahkan jika sudah diparafrase (APA, 2020).
Jadi logikanya begini:
- Parafrase = mengubah cara penyampaian
- Sitasi = tetap mengakui sumber ide
Kalau salah satu tidak ada, maka tetap berisiko plagiasi.
Kenapa Sitasi Itu Sangat Penting dalam Jurnal Internasional?
Dalam jurnal internasional, sitasi bukan sekadar formalitas. Ini adalah bagian dari “bahasa akademik”.
Semakin banyak referensi yang relevan dan disitasi dengan benar, semakin kuat posisi tulisan kita.
Menurut penelitian dari Harvard University (Neville, 2010), penggunaan sitasi yang tepat tidak hanya menghindari plagiasi, tetapi juga meningkatkan kredibilitas penelitian secara signifikan (Neville, 2010).
Selain itu, sitasi juga membantu pembaca untuk menelusuri sumber asli. Jadi sebenarnya, sitasi itu bukan hanya untuk menghindari kesalahan, tapi juga untuk memperkuat argumen.
Bagaimana Peran Tools Seperti Turnitin dalam Menghindari Plagiasi?
Di era sekarang, hampir semua jurnal menggunakan tools seperti Turnitin atau iThenticate untuk mengecek similarity.
Tools ini bekerja dengan membandingkan teks kita dengan jutaan database, termasuk jurnal, buku, dan website.
Tapi yang perlu dipahami, tools ini tidak “menilai plagiasi”, melainkan hanya menunjukkan tingkat kemiripan.
Menurut Foltýnek et al. (2020), similarity index harus diinterpretasikan secara kontekstual, bukan hanya berdasarkan angka (Foltýnek et al., 2020).
Artinya, angka tinggi belum tentu salah, dan angka rendah belum tentu aman.
Misalnya, bagian metodologi biasanya memiliki similarity tinggi karena formatnya standar. Tapi itu bukan masalah selama sitasinya benar.
Kenapa Banyak Artikel Ditolak Karena Plagiasi?
Ini realita yang sering terjadi.
Banyak artikel sebenarnya punya kualitas penelitian yang bagus, tapi gagal di tahap awal karena masalah teknis seperti plagiasi.
Editor jurnal biasanya melakukan screening cepat. Jika similarity terlalu tinggi atau ada indikasi plagiasi, artikel bisa langsung ditolak tanpa review lebih lanjut.
Menurut laporan Crossref (2021), salah satu alasan utama penolakan artikel adalah tingginya similarity akibat parafrase yang kurang tepat (Crossref, 2021).
Jadi bisa dibilang, plagiasi itu bukan cuma soal etika, tapi juga “tiket masuk” ke proses review.
Bagaimana Cara Menghindari Plagiasi Sejak Awal Menulis?
Cara paling efektif sebenarnya bukan di akhir, tapi di awal.
Kalau dari awal sudah benar, maka di akhir tidak perlu banyak revisi.
Biasakan untuk mencatat setiap referensi saat membaca. Jangan menunggu sampai tulisan selesai, karena risiko lupa sangat tinggi.
Selain itu, coba bangun kebiasaan menulis berdasarkan pemahaman, bukan menyalin. Ini mungkin terasa lebih lambat di awal, tapi akan jauh lebih cepat di tahap revisi.
Apa Solusi Jika Masih Takut Terkena Plagiasi?
Jujur saja, meskipun sudah paham teori, praktiknya tetap tidak mudah.
Apalagi kalau:
- Deadline sudah dekat
- Revisi dosen banyak
- Target jurnal internasional
Di kondisi seperti ini, banyak penulis akhirnya memilih menggunakan bantuan profesional untuk memastikan hasilnya aman.
Apakah Tugastuntas.com Bisa Membantu Menghindari Plagiasi?
Kalau Bapak dan Ibu ingin lebih aman dan praktis, Tugastuntas.com bisa jadi solusi yang cukup menarik.
Mereka fokus pada layanan akademik seperti parafrase jurnal, cek Turnitin, dan proofreading.
Yang membedakan, pendekatannya bukan sekadar mengganti kata, tapi benar-benar menyesuaikan dengan standar penulisan ilmiah.
Artinya, hasilnya tidak hanya lebih rendah similarity-nya, tapi juga tetap enak dibaca dan sesuai kaidah akademik.
Biasanya layanan seperti ini digunakan saat:
- Similarity masih tinggi
- Ada revisi dari reviewer
- Ingin submit ke jurnal internasional
- Tidak punya waktu untuk revisi berulang
Dengan bantuan seperti ini, proses penulisan jadi lebih cepat dan minim risiko.
Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menghubungi kami!
Hubungi Customer Service via WhatsApp: +62 858-9452-5108
Referensi
American Psychological Association. (2020). Publication manual of the American Psychological Association (7th ed.).
Bretag, T. (2016). Challenges in addressing plagiarism in education. PLoS Medicine, 13(12).
Crossref. (2021). iThenticate plagiarism report insights.
Foltýnek, T., Meuschke, N., & Gipp, B. (2020). Academic plagiarism detection. ACM Computing Surveys.
Neville, C. (2010). The complete guide to referencing and avoiding plagiarism. Open University Press.
Roig, M. (2015). Avoiding plagiarism, self-plagiarism, and other questionable writing practices. Office of Research Integrity.
Layanan Yang Kami Tawarkan
-
Desain PowerPointOrder via WhatsApp
Butuh Jasa Pembuatan PowerPoint yang Menarik, Cepat, dan Profesional? Serahkan ke TugasTuntas.com!
Rp250.000 Add to cartRated 4.64 out of 5 -
Joki Karil UTOrder via WhatsApp
Butuh Joki Karil Ilmu Pemerintahan UT? Santai, Kami Siap Bantu!
Rp50.000 – Rp1.500.000Price range: Rp50.000 through Rp1.500.000 Select options This product has multiple variants. The options may be chosen on the product pageRated 4.68 out of 5 -
Parafrase TurnitinOrder via WhatsApp
Jasa Cek Plagiasi Turnitin Terpercaya: Hasil Cepat & Akurat!
Rp20.000 Add to cartRated 4.70 out of 5 -
Parafrase TurnitinOrder via WhatsApp
Jasa Parafrase Turnitin: Dijamin Lolos Plagiasi Hanya Dengan Rp 300 Ribu
Rp300.000 Add to cartRated 4.72 out of 5 -
Joki Karil UTOrder via WhatsApp
Joki Karya Ilmiah UT Dijamin Lolos Turnitin, Revisi Gratis!: Yuk Pesan Sekarang
Rp250.000 – Rp1.900.000Price range: Rp250.000 through Rp1.900.000 Select options This product has multiple variants. The options may be chosen on the product pageRated 4.65 out of 5 -
Joki Proposal Penelitian UTOrder via WhatsApp
Joki Proposal Penelitian UT Cepat & Rapi | Metode Penelitian UT Digarap Ahlinya di TugasTuntas.com
Rp2.500.000 – Rp3.000.000Price range: Rp2.500.000 through Rp3.000.000 Select options This product has multiple variants. The options may be chosen on the product pageRated 4.59 out of 5

















